Sunday, December 23, 2007
Suropati
Friday, November 23, 2007
Cara ngebuat Fiberglass dan formulanya
Bahan :
- Resin (bahan dasar)
- Katalis (pengeras…)
- Matt (Serat kaca)
- Gel (pembatas cetakan)
- Talc (agar campurn resin menjadi kental seperti plastic)
- Silicon RVT (buat cetakan duplikasi)
- Carbon Cloth / Fiberglass Cloth
- Mirror Glazer (agar resin tidak menempel) atau Vaselin (non cosmetic)
- Meguair (ga tau gunanya)
1. Resin + Katalis = mudah pecah
2. Fiberglass Cloth + Resin + Katalis
3. Resin + talk + Katalis = Kuat
Perbandingan campuran.
Resin : Katalis = 1 liter : 10cc (0,01 L)
Cara buat cetakan
- Fiber.
Kekurangan : sulit membentuk sudut2 tajam.
Kelebihan : murah dan mudah
Saran : Ini untuk membuat beberapa hasil jadi yang disambung menggunakan mur dan baut (atau per pieces)
- Rubber
Kekurangan : Harga mahal, mudah sobek
Kelebihan : mudah membentuk sudut2 tajam
- Karton / Kardus
Kekurangan : Tidak kaku alias mudah mleot.
Kelebihan : sangat mudah dibuat, sangat murah, trus dapat menggunakan kawat nyamuk serta dempul.
- Tanah Liat
Option terakhir karena sulit mencarinya, tapi jauh lebih mudah ngebentuknya.
Untuk membuat sebuah master, membuatnya dapat dengan bahan-bahan tersebut di atas. Jika memiliki produk jadi dan ingin dibuat master, produk jadi tersebut di tutup menggunakan stiker atau selotape kertas yang lalu di lapisi dengan Mirror Glaze agar bahan fiber dalam bentuk resin tidak menempel.
Sunday, November 18, 2007
cuci steam ama ga??
Saturday, November 10, 2007
hujaaaan again
1 bytes, 1 bits, 1 kb atau..??
Old Standard |
1 bit (b) 1 byte (B) = 8 bits 1 Kilobyte (K / KB) = 10^3 bytes = 1,000 bytes 1 Megabyte (M / MB) = 10^6 bytes = 1,000,000 bytes 1 Gigabyte (G / GB) = 10^9 bytes = 1,000,000,000 bytes 1 Terabyte (T / TB) = 10^12 bytes = 1,000,000,000,000 bytes 1 Petabyte (P / PB) = 10^15 bytes = 1,000,000,000,000,000 bytes 1 Exabyte (E / EB) = 10^18 bytes = 1,000,000,000,000,000,000 bytes 1 Zettabyte (Z / ZB) = 10^21 bytes = 1,000,000,000,000,000,000,000 bytes 1 Yottabyte (Y / YB) = 10^24 bytes = 1,000,000,000,000,000,000,000,000 bytes Note: A third definition of Megabyte is that used in formatting floppy disks: 1 Megabyte = 1,024,000 bytes. |
IEC Standard |
1 bit (bit) 1 byte (B) = 8 bits 1 kilobyte (kB) = 10^3 bytes = 1,000 bytes 1 megabyte (MB) = 10^6 bytes = 1,000,000 bytes 1 gigabyte (GB) = 10^9 bytes = 1,000,000,000 bytes 1 terabyte (TB) = 10^12 bytes = 1,000,000,000,000 bytes 1 petabyte (PB) = 10^15 bytes = 1,000,000,000,000,000 bytes 1 exabyte (EB) = 10^18 bytes = 1,000,000,000,000,000,000 bytes 1 zettabyte (ZB) = 10^21 bytes = 1,000,,000,000,000,000,000,000 bytes 1 yottabyte (YB) = 10^24 bytes = 1,000,000,000,000,000,000,000,000 bytes Note: Note the use of a lowercase "k" in the abbreviation for kilobyte, in keeping with the metric system. |
KASKUS and Matrix Broadband
internet pake hp..
Perubahan isi blog
Sunday, May 20, 2007
Pilkada DKI. Milih atau nggak ya? (01)
Diambil di jalan Utan Kayu, Jakarta Timur pada tanggal 20 Mei 2007 (minggu) sore.
omong-omong, Pilkada tuh kampanye bukannya tanggal 21 Juli sampai 4 Agustus?
mohon lihat ke http://www.perspektif.net/indonesian/article.php?article_id=655 sebagai refrensi jadwal pilkada DKI Jakarta.
Semangat warna oranye ini jelas identik ama JakMania. Tapi kalo nyolong start gini, berarti men-identikkan JakMania sebagai tukang colong start (yang artinya negatif) dunk... Nah, salah sapa kalo gitu?
Nanti akan lebih aktif mengumpulkan gambar-gambar kecurangan Pilkada yang lain deh.... Mumpung saya orangnya mobile. Tapi ga janji yaaa...
oya, saya bukan pendukung partai apapun juga. ini gambar kebetulan saya lewat sana yah saya ambil dan pertama kali yang saya temui. Kalo ada rekan-rekan lain yang mendapatkan gambar kecurangan, boleh saling posting "temuan" anda.
Keluarga, dimanakah engkau? (2)
Sudah banyak pendidikan atau hasil riset yang mengatakan bahwa kelakuan anak berasal dari efek pendidikan orang tuanya juga, dan waktu yang diberikan orang tua untuk anak.
Mungkin beberapa pembaca pernah membaca mengenai cerita yang beredar diantara mailing list, yaitu anak yang menyewa waktu ayahnya yang super sibuk hanya untuk menemani ngobrol. Disatu sisi, saya melihat bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi, namun dengan kepolosan seorang anak, hal tersebut dapat terjadi.
Jadi, terkadang jika kita menyalahkan anak yang "melenceng", salahkan dulu diri kita sendiri. Apakah kita mendidiknya dengan benar atau salah?
Thursday, May 10, 2007
Dewasa ?? Ngarep !!!
Tapi kali ini gw gak menyorot ke hak prerogatif tersebut, namun lebih kepada partai politik di belakangnya.
Masih ingat bahwa partai politik apapun hasilnya reshuffle tersebut berkoar bahwa mereka akan mendukung selama masih dalam koridor demi kepentingan rakyat.
Dan reshuffle itu akhirnya menelan korban beberapa kader partai pendukung. Nah disini kemudian ujian kedewasaan dimulai. Apa mereka benar-benar dewasa?
Coba saja buka beberapa literatur online mengenai pasca reshuffle, atau berita TV. Sangat tampak beberapa partai yang dulunya mengumandangkan kedewasaan politik ternyata menjadi sangat tidak dewasa. Mereka berkoar-koar untuk menarik dukungan kepada pemerintah, menarik anggota lainnya yang masih berada dalam kabinet tanpa memperhatikan apakah anggota tersebut dibutuhkan kinerjanya oleh masyarakat. Yang penting, mereka kecewa berat dan langsung ngambeg. huh... Jadi ingat keponakan kalo pas senang, langsung datang. Tapi begitu kecewa, langsung ngambeg. Tapi inilah faktanya.
Saya cuma mo ngomentari saja, coz gemas juga melihat ketololan karena ketidakdewasaaan partai politik yang mau mempermainkan kepentingan rakyat yang memilih mereka.
any comment?
Tuesday, April 24, 2007
Keluarga, dimanakah engkau?
topik berikutnya.
Kita melihat bahwa lingkungan sekarang ini sudah sangat liberal (setidaknya menurut pandangan saya), dimana banyak anak muda yang hanya mengejar kesenangan dan kemudahan tanpa mengetahui bahwa dibalik kesenangan tersebut cukup banyak kerugian yang akan ditunai. Jujur saja, penulisan saya kali ini berdasarkan pengalaman saya dalam menghadapi beberapa orang yang "bermasalah" dengan hal ini.
Kita tidak dapat menyalahkan segala macam media dan informasi begitu saja tanpa memandang diri kita sendiri, setidaknya orang yang telah menikah dan telah memiliki keluarga utuh, atau orang yang dapat dijadikan panutan untuk segala macam tindakan negatif yang dilakukan anak-anak muda Indonesia, khususnya Jakarta yang notabene adalah kota besar dimana segala macam berkumpul didalamnya, baik yang buruk maupun yang baik.
Pernah saya mendapatkan sebuah contoh yang cukup baik, seorang gadis yang terlihat cukup bahagia dan setidaknya terlihat dari luar saya undang ke rumah dimana keluarga saya selalu berkumpul (saat sebelum semuanya menikah dan meninggalkan rumah) dalam sebuah ruangan, entah itu untuk sekedar menonton TV, membaca koran, atau santai sejenak melepas penat. Anak muda ini jika diluar selalu terlihat bahwa dirinya tidak terjadi sesuatu atau adanya
beban berat mengenai keluarga.
Saat gadis tersebut melihat ini semua, saya melihat tatapan matanya kosong dan sejenak seperti mengambang. Sesuatu yang aneh, karena keluarga saya selalu menerima tamu dengan hangat seakan-akan keluarga sendiri. Dan setelah kejadian tersebut, barulah gadis ini mengatakan bahwa dirinya sebenarnya merasa "diterima" sebagai sebuah anggota keluarga dari keluarga yang sebelumnya asing bagi dirinya. Dan pada akhirnya keluarlah cerita bahwa ternyata keluarganya adalah keluarga yang berantakan. Tentu saya tidak akan menyinggung lebih jauh lagi, namun untuk gambaran saja bagaimana berantakan itu yah bisa dikatakan dirinya menjadi saksi pecahnya gelas dan piring serta kerasnya daun pintu dibanting. Belum termasuk bentakan-bentakan sehingga dirinya, bahkan adik dan kakaknya tidak betah untuk berkumpul yang membuat mereka selalu berada di luar rumah. Dari sini mengalirlah sebuah cerita yang
cukup mencengangkan saya, karena pada awalnya mengira bahwa gadis ini tidak menghadapi sesuatu yang berat.
Dikesempatan lain, ada kedua teman dari kakak saya menginap dirumah untuk mengerjakan skripsinya. Kebetulan kami semua laki-laki dan yang mereka juga laki-laki. Tapi dalam keluarga kami, semua tamu terlebih tamu yang menginap adalah anggota keluarga yang datang dari jauh sehingga kemi menganggap mereka saudara kami sendiri, bahkan saya menganggap mereka juga kakak. Mereka sempat merasa bahwa mereka betah untuk tinggal di rumah saya
ketimbang di rumah mereka masing-masing. Dan disuatu waktu, saya diajak kakak saya untuk menyambangi rumah keduanya yang menurut saya cukup mewah, lebih bersih ketimbang rumah saya, dan serba teratur. Hmm.. sungguh rumah yang ideal. Tapi apakah memang benar? Tunggu dulu.
Kedua orang tua teman kakak saya tersebut selalu pulang malam, dan setelah pulang tidak pernah ada keinginan untuk berkumpul dalam ruang keluarga. Semuanya langsung masuk ke kamar, termasuk anak-anaknya. Dan ini rutin setiap hari. Cukup kontras untuk ukuran saya dan bagi saya pada awalnya menyenangkan karena hal tersebut menandakan kurangnya pengawasan. Saya bisa melakukan apa saja di rumah. Tapi, itu hanya awal dan itu yang terlihat dari luar. Sebenarnya mereka cukup kesepian dan bosan.
Apakah harta benda bisa mengganti kebahagiaan? Lihat lagi contoh di atas. Dan mungkin bagi yang melihat harta adalah segala-galanya, ada benarnya. Tapi lihatlah lebih ke dalam lagi. Apakah iya mereka bahagia dengan hartanya? Contoh yang baik bisa ditemui dalam beberapa komik kanak-kanak yang terkadang kita cenderung mencibir, tapi sebenarnya hal itu adalah
cerminan diri kita sendiri yang dibuat parodi atau dalam bentuk cerita lain. Misalnya saja komik Donal Bebek. Dalam beberapa ceritanya, ada yang dipanggil Paman Gober yang sangat-super kaya dan masih tamak untuk mengejar harta. Tapi apakah iya dirinya bahagia? Selalu merasa terancam dengan adanya Gerombolan Siberat, Nenek sihir, Dinas Pajak, Sales, dan bahkan
Kwak-Kwik-Kwek (keponakannya).
to be continue......
Monday, March 12, 2007
Inovasi atau Invensi ? Penting mana ?
penemuan ini akan sangat berperan dan merasuk dalam kehidupan manusia modern
saat ini. Akan tetapi, sadarkah jika invensi-invensi tersebut tidak semuanya
dipergunakan untuk kelangsungan hidup manusia? Sadarkah bahwa invensi
tersebut pada awalnya hanya berupa angan-angan belaka? Bahkan mungkin pada
jamannya dianggap mimpi di siang bolong?
Kita lihat salah satu contoh yang terjadi saat ini. Antariksa atau luar
angkasa. Dari dulu manusia hanya dapat memandangi angkasa sebagai bagian
dari bumi dan tanah. Manusia saat itu memandang luar angkasa berupa seperti
tirai hitam raksasa yang selalu berubah dari terang dan gelap. Namun, jika
bukan karena mimpi ada orang yang akan naek ke luar angkasa, bahkan merapat
ke bulan. Itu awalnya hanya mimpi, dan dongeng. Akan tetapi jika kita
memandang sejarah, mungkin kita akan mentertawakan orang yang saat itu
mentertawakan orang yang bermimpi itu. Dan mimpi itu kemudian perlahan-lahan
diwujudkan dalam bentuk penemuan-penemuan yang sebelumnya tidak masuk akal.
Dari penemuan tersebut kemudian dilakukan inovasi menjadi sebuah invensi
baru dan pada akhirnya manusia pun berangkat ke bulan.
Dari sini, penting mana invensi atau inovasi?
Menjawab pertanyaan ini, seperti menjawab duluan mana antara ayam dan telur.
Namun jika menjawab pertanyaan terakhir lebih ke arah spiritual dan
keyakinan akan Sang Penguasa Alam Semesta, menjawab pertanyaan pertama akan
lebih kepada pemikiran dan logika.
Invensi merupakan langkah awal dari sebuah peningkatan. Invensi dibuat untuk
menjawab mimpi-mimpi yang ada. Akan tetapi hanya menjawab mimpi, bukan
menjawab apa yang dibutuhkan oleh manusia. Sedangkan kita sebagai manusia
lebih mengetahui bahwa kita tidak hanya membutuhkan jawaban akan mimpi,
tetapi menjawab kebutuhan kita sendiri. Dari sini, manusia membuat banyak
jawaban dari mimpi mimpi yang ada hingga kemudian didapat jawaban akan
kebutuhan dengan melakukan pengembangan. Pengembangan ini bisa bersifat
"lean" atau kecil bisa juga "major" alias besar, bahkan "revolusi" alias
lompatan besar. Dan ini yang disebut inovasi. Dan inovasi ini kemudian akan
menjawab banyak pertanyaan hidup manusia, bukan sekedar mimpi.
Akan tetapi, secara kodrat manusia tidak mudah untuk puas. Manusia melakukan
inovasi-inovasi hingga menciptakan banyak kebutuhan baru. Seperti contoh
yang dapat terlihat, jaman dulu kita kalau bisa kita dalam berbisnis tidak
mengutang alias bermodalkan pada diri sendiri. Penemuan-penemuan terus
bermunculan sehingga memunculkan kebutuhan akan peminjaman modal. Peminjaman
modal berarti utang. Dan ini adalah kebutuhan baru yang tercipta karena
adanya inovasi.
Dan saat manusia dalam kondisi terjepit, biasanya akan muncul revolusi dalam
invensi maupun inovasi. Dapat terlihat pada saat perang. Setiap perang akan
menghasilkan banyak Invensi maupun Inovasi tergantung kepada kebutuhan.
Sebelum perang, pesawat terbang yang dipergunakan masih berupa pesawat
terbang konvensional dan dalam perang pula muncul invensi teknologi mesin
jet hingga meng-inovasi bentuk dan kebutuhan dari hidup manusia dalam
kondisi perang dan kemudian disesuaikan untuk kebutuhan damai. Dan itu akan
terus berlangsung hingga sekarang ini.
Jadi, masih pentingkah pertanyaan "Penting mana, invensi atau inovasi?"
Safety Factor
Banyak kecelakaan maupun tragedi yang terjadi karena Safety Factor
dikesampingkan dengan alasan ekonomi. Paling mudah adalah penggunaan ban
yang di vulkanisir berulang kali (padahal ada masa pakainya), namun dipakai
untuk ngebut dan bawa beban berat.
Masihkah anda semua ingat akan tragedi dimana seluruh penumpang sebuah
armada bus terbakar hidup-hidup saat terjadi kecelakaan dimana bus tersebut
mengambil bahu jalan untuk menyalip. Dan parahnya, alat safety untuk darurat
sudah pada hilang, lalu pintu juga tidak dapat dibuka karena menggunakan
hidrolis.
Semuanya kembali kepada masalah ekonomi dan ujung-ujungnya adalah efisiensi
karena cost yang besar. Padahal, dengan adanya kecelakaan, jelas cost yang
ditanggung hampir 4x lipat lebih besar daripada saat investasi untuk Safety
Factor (Tools, maupun Maintenance). Tidak percaya? Coba dirunut ke awal
dengan mengambil contoh bus yang terbakar. Harga sebuah palu penyelamat
mungkin paling mahal adalah 50rb per buah dan dalam 1 bus musti ada 3 atau 4
unit. Berarti investasi 200rb. Lalu melakukan maintenance pada pintu. Paling
mahal mencapai 3 jt. Total mencapai 3,5 jt. Dan kecelakaan terjadi disusul
kebakaran, maka cost recovery untuk kecelakaan tersebut ada beberapa faktor,
yaitu harga bus dan modifikasinya, biaya penggantian barang bawaan.
Tapi dengan dihilangkannya safety factor ini, lihat saja urutannya. Dengan
terbakar hidup-hidup seluruh penumpang (anggap sja 60 penumpang), maka biaya
santunan harus diperhitungkan. Karena adanya korban jiwa, jelas sekali
minimal mencapai 50jt per orang (tapi kita tahulah bagaimana hukum berjalan
di Indonesia. Konteks di sini dalam kaitannya dengan hukum yang berlaku dan
ditaati) maka mencapai 3 milyar untuk penumpang. Belum lagi dilihat dari
harga bus, harga dan yang lainnya hingga kasar-kasarnya mencapai 5 milyar
belum termasuk pemulihan nama baik yang biayanya tidak sedikit.
Jadi, apa masih perlu mengesampingkan Safety Factor?
Sunday, March 04, 2007
Tragedi atau Parodi?
masyarakat jangka pendek dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk masa
depan atau jangka panjang sesuai dengan kemampuan pemerintah dan rakyatnya
sendiri. Aturan sudah berhamburan keluar dari yang namanya wakil rakyat dan
eksekutif. Ide baik banyak bermunculan. Akan tetapi, mengapa yang disebut
negara Indonesia tidak dapat maju? Yang maju hanya perut sebagian orang,
bahkan jika dibandingkan dengan 200jt rakyat Indonesia (apakah tetap sekian
atau tidak, sudah kurang mengetahui karena sensus penduduk sudah tidak
digembar-gemborkan), yang perutnya maju karena kenyang) tidak lebih dari 0,1
%.
Permasalahan yang terjadi selalu sama dan terulang, yaitu mencari kambing
hitam. Yang selalu terjadi, jika ada masalah maka bukan penyelesaiannya
tetapi siapa atau apa yang dapat dijadikan kambing hitam? Diambil saja
contoh paling baru, yaitu banjir di kota Jakarta. Yah... Jakarta. Ibukota
negara besar yang kata orang lempar tongkat ke tanah maka akan tumbuh jadi
pohon berbuah lebat. Yah.. sekali lagi.
Jakarta tempo hari adalah sebuah parodi yang sungguh tidak dan sangat tidak
lucu. Lihat saja, banjir terjadi di hampir 70% wilayah daratan ibu kota dan
dengan lantang bahwa banjir besar biasa terjadi dalam siklus 5 tahunan. Ini
sungguh lelucon yang sangat tidak lucu. Jika terjadi setiap 5 tahun, lalu
apa tindakan sebaiknya untuk mengantisipasi bukan malah menyalahkan alam.
Alam telah berubah karena ulah manusia juga. Mari kita runut hingga ke
belakang.
Jakarta dibelah oleh belasan sungai besar dan kecil serta telah terdapat
jalur khusus pengendali banjir. Tetapi mengapa tetap banjir? Saat awal
Januari 2007, memang hujan terus turun tiada henti dengan curah hujan yang
cukup tinggi, baik di ibukota sendiri maupun di kota Bogor sebagai sumber
banyak titik mata air sungai-sungai di Jakarta. Air mengalir tiada bermata,
turun dan turun hingga titik yang paling rendah. Kemudian bergulir lagi,
memasuki selokan. Selokan kemudian masuk ke kali kecil dan dari kali kecil
masuk ke sungai. Trilyunan butir air turun dari langit membasahi bumi,
kemudian bergabung dan dipecah menjadi ratusan selokan. Dari ratusan selokan
tersebut masuk ke puluhan kali kecil dan dari kali kecil masuk ke belasan
sungai yang ada.
Itu adalah sesuatu yang ideal. Faktanya adalah, trilyunan butir air yang
jatuh membasahi bumi ternyata tidak semuanya masuk ke selokan karena selokan
sudah buntu. Mau kemana lagi butiran air tersebut lari? Tidak lain dan
tidak, adalah ke permukaan tanah datar yang ada. Dan trilyunan butir air
terus berjatuhan seakan sedang mengisi bak mandi hingga penuh. Dan saat
penuh tidak ada selokan yang berfungsi, maka yang terjadi air akan luber
naik ke badan jalan. Dan dari badan jalan air akan terus mencari titik
terendah. Jika tidak ketemu, jelas permukaan air akan terus naik dan naik
dan naik hingga permukaan air tertinggi akan menemukan jalan lain ke selokan
yang masih berfungsi. Ternyata selokan yang masih berfungsi juga menerima
curahan dari selokan buntu lainnya sehingga bilyunan butir air yang
berkumpul tersebut malah "reuni" dan menjadi kolam raksasa seperti bak mandi
yang diisi hingga luber. Permukaan air meningkat hingga langsung bertemu
dengan kali kecil. Permukaan air yang telah tinggi kemudian terjaga
ketinggiannya saat kali kecil tersebut menerima luberan, akan tetapi kali
kecil tersebut juga menerima "order" diluar angkutan air, yaitu angkutan
sampah. Dan ini membuat kali kecil menjadi tersumbat hingga permukaan air
menjadi lebih tinggi lagi hingga akhirnya bertemu sungai.
Dan ternyata, sungai pun telah penuh dengan sampah, sehingga dasar sungai
menjadi lebih tinggi dari seharusnya dan hal ini membuat kapasitas sungai
menjadi rendah sehingga air yang telah tinggi tidak terangkut dengan baik.
Air pun luber ke sisi sungai dan pada akhirnya membuat banjir.
Jadi, apa yang terjadi dan apa yang menyebabkan banjir sebenarnya? Curah
hujan yang tinggi atau sampah?
Friday, February 02, 2007
Again... Flood in Jakarta
akan adanya banjir di seluruh wilayah Jakarta.
Beberapa wilayah sudah terkena banjir sejak hari Rabu, berlanjut Kamis.
Namun hujan yang turun sejak Kamis siang hingga Jumat pagi ini menyebabkan
banyak wilayah menjadi kantong-kantong air.
Mengapa banjir bisa menjadi langganan adalah pertanyaan besar dan tugas dari
pimpinan daerah, dalam hal ini Gubernur DKI Jakarta. Sering kali terlihat
bahwa banjir selalu terjadi di tempat-tempat yang sama, dan apabila telah
meluap baru kemudian melebar ke mana-mana.
Jangan ada sebuah alasan karena Jakarta sudah di bawah permukaan air. Bahkan
sebuah negara kecil yang letaknya di bawah permukaan laut koq ga pernah
banjir?
Patut ditanya adalah bentuk saluran air yang cenderung lurus dan kurang
adanya situ (kantong air). Apakah memang seperti ini perencanaan tata
kotanya atau pemerintah daerah hanya menggunakan duit untuk proyek-proyek
mercu suar sperti busway, taman dan lain sebagainya?
Jika dikatakan konsep kota yang baik, apalah artinya proyek-proyek tersebut
jika banjir yang terjadi secara periodik ini merusak prasaran dan
infrastruktur kota, sekaligus menghancurkan banyak harta benda milik
warganya. Apalah artinya konsep tatanan lalu lintas kota Jakarta, jika
kemudian banjir menghancurkan segalanya? Menghancurkan jalan raya yang sudah
dibangun susah payah dengan biaya yang sangat besar.
Jika sampah yang ditujukan, mengapa tidak dibuat konsep yang terpadu dan
dilakukan secara kontinyu atau terus menerus? Hanya kalo ada masalah
(seperti kasus bojong gede), baru seluruh aparatur pemda DKI panik dan
Jakarta langsung menjadi kota sampah.
Monday, January 01, 2007
Happy New Year 2007
network even both of my GSM and CDMA number, was 'stuck'. Cannot make a
call.
For this new year, i hope i have a new better plan, better life, and better
love.
Happy New Year 2007 to all of you guys.